RIBUAN warga dari berbagai daerah yang berniat memperoleh uang baru, memadati pintu masuk hingga pelataran parkir Kantor Bank Indonesia (KBI) Bandung Jln. Braga Kota Bandung, Senin (31/8). KBI Bandung menyiapkan uang receh atau pecahan Rp 20.000,00 ke bawah sebanyak Rp 273 miliar untuk keperluan selama Ramadan hingga Lebaran.* KRISHNA AHADIYAT/”PR”
Karena kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tidak lagi melibatkan Perusahaan Penukaran Uang Pecahan Kecil (PPUPK) dan hanya melayani penukaran dari satu sumber, masyarakat yang berniat memperoleh uang baru, harus rela mengantre berjam-jam, dari pagi sampai siang. Mereka datang dan mengantre untuk mendapat uang pecahan baru di tempat penukaran uang BI Bandung Jln. Braga, Kota Bandung.
Perjuangan berat untuk mendapat uang baru, juga dialami Sugianto (43), salah seorang warga asal Kab. Sumedang. Ia mengaku, sejak pagi hari sekitar pukul 3.30 WIB selepas makan sahur, dia berangkat ke Bandung demi mendapat uang kertas baru Rp 2.000,00.
” Sebelumnya saya belum pernah menukarkan uang ke Bank Indonesia seperti sekarang. Hanya, sejak melihat uang baru pecahan Rp 2.000,00 di televisi, saya ingin memilikinya untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak dan keponakan saat Lebaran nanti,” kata Sugianto yang ditemui di tengah kepadatan antrean penukaran uang di Kantor BI Bandung, Senin (31/8).
Menurut dia, meski berangkat pagi dari Sumedang dengan maksud bisa cepat mendapat apa yang diinginkannya, tetap saja dia kebagian nomor antrean ratusan, karena sejak subuh sudah banyak warga yang mengantre. Padahal, kata Sugianto, loket penukaran baru dibuka pukul 8.00 WIB.
Hal serupa dialami Pinarti (45). Demi mendapat uang pecahan Rp 2.000,00, dia rela berangkat dari rumahnya di daerah Kelurahan Cibuntu, Cijerah, Kec. Bandung Kulon sejak pagi, tetapi tetap saja dia harus menunggu hingga siang untuk mendapatkannya.
“Maunya sih tukar Rp 3 juta, tetapi karena dibatasi tiap orang hanya mendapat Rp 400.000,00, paling besok saya datang lagi. Yang penting, bisa membawa sampai Rp 3 juta karena saudara-saudara di kampung banyak dan harus bisa kebagian semua,” ujar Pinarti, yang berencana mudik ke Madiun saat Lebaran nanti.
Dia menuturkan, dirinya hampir setiap menjelang Lebaran menukarkan uang baru untuk keluarga di kampung. Namun, kondisi sekarang, menurut dia, jauh lebih ramai dan harus mengantre sejak pagi agar kebagian.
Lain halnya dengan Budi (47). Pedagang es yang biasa mangkal di SD Cijerah tersebut mengaku menukar uang baru pecahan Rp 2.000,00 untuk meningkatkan penjualan dagangannya. Uang Rp 2.000,00 baru yang ditawarkan lewat uang kembalian, bisa menggaet minat anak-anak sekolah untuk jajan di tempatnya.
“Penjualan jadi ramai karena rata-rata anak sekolah yang jajan ingin kembalian uang baru Rp 2.000,00. Tetapi sayangnya, mereka malah tidak jajan lagi (kepada pedagang yang lain). Jadi saya kebagian protes dari pedagang lain,” kata Budi yang biasa disapa Mang Meong itu.
Kepala Bidang Sistem Pembayaran BI Bandung Ari Lajiji mengatakan, BI Bandung menyiapkan uang berbagai pecahan hingga Rp 4,7 triliun untuk keperluan penukaran uang selama bulan Ramadan hingga Lebaran nanti.
“Sebetulnya, masyarakat dipersilakan menukar berapapa pun, namun karena banyak peminat dan persediaan terbatas, jumlah penukaran dibatasi agar masyarakat yang mengantre bisa kebagian secara merata,” katanya
Pihaknya menyiapkan uang receh atau pecahan Rp 20.000,00 ke bawah sebanyak Rp 273 miliar. Dan hingga minggu pertama Ramadan, rata-rata jumlah penukaran uang receh mencapai Rp 1,2 miliar per hari. Menurut dia, memasuki minggu kedua Ramadan, penukaran diperkirakan akan mencapai Rp 2 miliar per hari. Hal itu terlihat dari animo masyarakat yang melakukan penukaran uang, terutama uang pecahan baru Rp 2.000,00.
“Untuk mengantisipasinya, mulai hari ini (Senin-red.), kami menambah nomor antrean dari 600 – 700 menjadi 1.000 nomor antrean. Dan rencananya, setiap orang yang datang bisa langsung mendapat nomor antrean sejak awal,” ujarnya. (Krishna Ahadiyat/”PR”)***
1 September 2009
Posted by Admin SKA |
Cuap-Cuap, Lintas Informasi | 00, ang pecahan baru, Antre, Antre Sejak Subuh, Antre Sejak Subuh untuk Rp 2.000, Bank Indonesia, BI Bandung, Jln. Braga, kebijakan, kebijakan Bank Indonesia, Kota Bandung, memperoleh uang baru, pertama Ramadan, Perusahaan Penukaran Uang Pecahan Kecil, PPUPK, Rp 2.000, Subuh untuk Rp 2.000 |
Leave a comment
LEMBARAN kertas rupiah tak pernah lekang jadi incaran orang, termasuk Diana (25 /bukan nama sebenarnya), warga Katapang, Kab. Bandung. Diana adalah seorang pekerja seks komersial (PSK). Di hari-hari biasa sebelum bulan puasa, ia biasa mangkal di sekitar Jln. ABC, Kota Bandung. Namun saat bulan puasa tiba, Diana pun menghormatinya dengan tidak membuka “praktik”.
Namun, desakan ekonomi menuntutnya turun ke lapangan, meskipun harus kucing-kucingan dengan Satpol PP dan polisi yang rajin melakukan razia. “Ya, tiga hari saya di rumah. Tetapi karena anak-anak butuh makan dan pakaian baru untuk Lebaran, terpaksa saya ke jalan lagi,” katanya di Mapolsekta Sumur Bandung, Jumat (28/8) malam.
Diana sudah berprofesi sebagai PSK sejak umur 18 tahun. Alasannya klasik, yaitu ditinggal pacar yang sudah menghamilinya dan desakan ekonomi.
Di luar bulan Ramadan, dalam semalam hingga dini hari, ia bisa membawa pulang uang Rp 300.000,00 – Rp 500.000,00. “Kalau bulan puasa gini, paling banyak dapat Rp 300.000,00. Uangnya untuk kebutuhan anak-anak, yang satu umur tujuh tahun dan satunya lagi delapan bulan,” ucapnya sambil menunduk.
**
MALAM itu, Diana baru saja tergaruk razia yang digelar Polsekta Sumur Bandung. Bersama tiga teman seprofesinya, ia diamankan dari tempat biasa mangkal di Jln. ABC Kota Bandung. Selain PSK, polisi juga mengamankan puluhan gepeng dan pengamen jalanan.
Saat diciduk, Diana yang telah memiliki dua anak itu baru beberapa jam “buka praktik”. “Baru juga dapat satu pelanggan, sudah ketangkep. Tadi saya kira konsumen, tahunya polisi. Saya tidak sempat lari,” ujarnya pula.
Itu bukan pertama kali ia diamankan polisi ataupun Satpol PP. “Sudah lupa yang ke berapa. Yang pasti sudah sering. Waktu pertama ketangkep memang takut, tetapi kesininya biasa-biasa saja. Moal kapok mun can beunghar mah,” katanya lagi.
Diana dan beberapa teman seprofesinya mengaku bakal tetap “berjualan” selama belum memperoleh pekerjaan yang halal. “Kalau saya tidak kerja seperti ini, siapa yang ngasih makan anak saya. Tetapi siapa sih yang mau mempekerjakan orang-orang seperti saya ini,” ucapnya dibenarkan tiga temannya. (Satrya Graha/”PR”)***
31 August 2009
Posted by Admin SKA |
Cuap-Cuap, Humor, Lintas Informasi | "Moal Kapok Mun Can Beunghar Mah...", Beunghar, bulan puasa, garuk razia, Jln. ABC, Kapok, kertas rupiah, Kota Bandung, Mapolsekta Sumur Bandung, Moal Kapok, PSK, Satpol PP |
Leave a comment