Tips Menghilangkan Mendengkur
Mungkin kebiasaan mendengkur adalah hal yang spele, tetapi lama kelamaan akan mengganggu istirahat orang yang ada disamping anda.
Bukan hanya itu saja, kesehatan anda juga terganggu. Nah, bila anda salah satu yang mempunyai masalah mendengkur segeralah atasi. Berikut beberapa tips untuk menghilangkan kebiasaan dalam mendengkur :
Tidur dalam posisi miring
Cobalah mengganti posisi tidur anda, jika biasa tidur terlentang sebaiknya ganti dengan posisi miring. Dengan demikian anda dapat mengatur nafas sehingga dengkuran bisa diminimalkan.
Minum madu
Sebelum anda tidur, sebaiknya minum beberapa sendok madu. Karena menurut beberapa penelitian madu bisa membantu menghilangkan kebiasaan mendengkur.
Hindari minum susu sebelum tidur
Jangan mengkonsumsi susu sebelum anda tidur, karena susu dapat menyebabkan dengkuran. Walaupun susu dapat membantu mengobati insomnia tetapi tidak baik efeknya untuk anda yang mempunyai kebiasaan mendengkur.
Atur posisi letak bantal
Saat tidur, atur posisi bantal menjadi lebih tinggi. Karena jika posisi bantal rendah atau datar akan menyumbat keluar masuk udara sehingga menimbulkan dengkuran.
Diet sehat
Jika tubuh anda gemuk, sebaiknya lakukan diet, karena tubuh yang menyimpan banyak lemak bisa menyebabkan dengkuran.
Hidup sehat
Konsumsi makanan yang sehat, banyak minum air putih dan olahraga teratur. Hindari rokok dan minuman beralkohol
Marah Baik Bagi Kesehatan

Mengekspresikan diri dengan cara marah-marah rupanya dapat sedikit melegakan hati saat menghadapi tekanan. Lebih jauh lagi, marah-marah bahkan bermanfaat bagi kesehatan.
Hasil temuan ini tentunya menepis anggapan sebagian besar orang yang menyebutkan marah-marah dapat membuat orang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Justru sebaliknya, orang yang lebih memilih memendam kekesalannya akan semakin menderita karena tertekan.
“Orang-orang yang meluapkan perasaan marah secara wajar pada saat situasi tertekan lebih bisa mempertahankan tekanan darah lebih rendah dan melepaskan lebih sedikit hormon penyebab stres, dibandingkan partisipan yang meresponnya dengan ketakutan atau hanya memendam perasaan mereka,” kata Jennifer Lerner dari Carnegie Mellon University, seperti dikutip dari Science Daily, Jumat (11/9/2009).
Dalam studi ini, Lerner dan timnya membuat percobaan yang melibatkan 92 mahasiswa. Dalam percobaan ini, Lerner memberikan tugas kepada para partisipan untuk mengerjakan soal tes yang sulit.
Selama tes berlangsung, Lerner dan timnya sengaja membuat mereka tertekan dengan berulang kali mengganti-ganti peraturan. Jika partisipan memberikan jawaban yang salah, maka mereka diminta mengulang kembali dari awal.
Selama uji coba itu, sebuah kamera tersembunyi merekam ekspresi wajah para partisipan. Setelah selesai, peneliti kemudian mengidentifikasi ekspresi takut dan marah yang ditampilkan mahasiswa tersebut. Selain itu, tekanan darah, detak jantung dan jumlah hormon penyebab stres atau cortisol mereka pun diukur.
Hasilnya, mereka yang ketakutan selama uji coba memiliki tekanan darah dan kadar hormon cortisol lebih tinggi dibandingkan mereka yang merespon situsi penuh tekanan tersebut dengan kemarahan.














