Internet Bisa Bikin Pengguna Lebih Pintar
Sebuah survei di internet menemukan bahwa lebih dari tiga perempat pengguna internet merasa yakin, internet akan membuat pengguna lebih pintar dalam 10 tahun ke depan.
Survei yang dilakukan oleh Imagining the Internet Center milik University of North Carolina dan Pew Internet and American Life Project ini melibatkan sekira 895 pengguna internet yang berasal dari beberapa negara di dunia.
Bahkan, dalam survei tersebut para respponden juga yakin jika internet mampu membantu meningkatkan kemampuan menulis dan membaca pengguna internet pada tahun 2020 nanti.
“Tiga dari empat ahli IT mengatakan penggunaan internet mampu meningkatkan intelijensia manusia, dan dua pertiga responden pun yakin bahwa internet mampu meningkatkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki,” ujar analis dari lembaga tersebut, Janna Anderson, seperti dikutip melalui Yahoo News, Senin (22/2/2010).
Sayangnya, sekira 21 persen dari responden yang terlibat mengatakan, internet mampu menimbulkan efek kebalikannya, bahkan mampu mengurangi IQ jika konsumsinya berlebihan.
“Banyak juga di antara para pengguna internet, yang menjadi responden kami, menyatakan kritiknya atas efek yang ditimbulkan oleh Google, Wikipedia, dan konten online lainnya,” ujar Anderson.
Responden yang mengikuti survei tersebut terdiri dari ilmuwan, pebisnis, konsultan, penulis, pengembang teknologi dan pengguna internet umum. Dari 895 responden, lembaga penyurvei menganggap sekira 371 responden merupakan para ahli di bidangnya.
42 persen dari mereka yang dianggap ahli, mengatakan percaya dengan pasti jika pengguna internet akan semakin membuka identitas diri mereka sehingga pada tahun 2020 nanti tidak ada pengguna internet tak bernama. Hal ini dikarenakan semkain ketatnya sistem identifikasi dan keamanan di internet.
Waspadai Pedofilia di Internet

LONDON – Data terbaru dari Child Exploitation and Online Protection Centre (CEOP) di Inggris menyebutkan anak-anak korban kejahatan seksual lewat situs jejaring sosial seperti Facebook meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu satu tahun.
Setiap bulannya, CEOP menerima sekira 500 laporan kasus kejahatan seksual lewat internet yang menimpa pada anak-anak. Sebanyak 22 persen dari kasus ini berkaitan erat dengan situs jejaring sosial.
Kasus terbaru yang diterima CEOP menyebutkan bahwa seorang gadis cilik ditemukan tewas setelah melakukan kencan online dengan orang asing yang baru dikenalnya.
“Seiring dengan pertambahan usia anak-anak, mereka akan merasa lebih bebas dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, termasuk dalam hal pertemanan di internet,” kata Vicky Gillings dari CEOP yang dikutip dari Telegraph, Rabu (28/10/2009).
“Itu sebabnya, para orangtua harus mengajarkan putra putri mereka bagaimana mengenali dan menghadapi para pelaku kejahatan di dunia maya,” tambahnya.
Gillings juga mengkampanyekan penggunaan internet, ponsel dan teknologi lain secara sehat. Untuk itu, para orangtua pun di dorong untuk bisa membuat putra putri mereka lebih terbuka soal kebiasaan online mereka.
Data CEOP menyebutkan, umumnya para pedofilia akan mencari mangsa melalui pertemanan di Facebook, Bebo atau MySpace sebelum memulai percakapan privasi melalui layanan messenger seperti MSN atau AIM, dimana tujuan mereka nantinya akan semakin jelas.
Namun CEOP juga menerima laporan bahwa para pedofilia juga memanfaatkan platform lain termasuk website pribadi, email, dan permainan online.
Di Internet, Cendol Pun Diklaim Malaysia
Tak perlu menunggu lama, reaksi keras pun muncul dari sejumlah netter tanah air. Berdasarkan pengamatan Liputan6.com, Rabu (26/8), kedua kubu saling hujat mempertahankan argumen masing-masing. Merasa budayanya diinjak-injak Malaysia, tak sedikit netter Indonesia yang melontarkan sejumlah kata kotor. Namun diantara mereka ada pula netter yang mengajak berdamai dan menduga ini hanya sebuah isu untuk memecah belah bangsa [baca: Indonesia dan Malaysia “Perang” di Dunia Maya].
Bukan soal remeh-temeh semata, bahkan ada netter yang mengejek lambang negara Garuda, dengan menyebutnya sebagai Ayam. Sontak, para netter lain segera angkat bicara dan mencaci maki si pengejek. Karena diskusi ini di dunia maya, kata-kata yang keluar pun terhitung jorok.
Karena kepentingan etika, seluruh perang kata-kata tersebut tak bisa disebutkan satu-persatu. Namun jika Anda berminat melihat kelanjutan “perang” tersebut, Anda dapat langsung mengunjungi http://www.topix.com. (ROM)














