Kapan Bayi Bisa Mengangkat Kepalanya Sendiri?
Saat menggendong dan mengangkat bayi hal yang paling menjadi perhatian adalah kepala kepalanya karena sangat lunglai alias belum bertenaga. Kapan bayi bisa mengontrol kepalanya sendiri?
Setiap bayi yang baru lahir belum memiliki kontrol yang bagus dengan kepalanya, karena berat kepala lebih besar dari berat badannya. Hal ini juga karena otot lehernya masih cukup lemah sehingga belum bisa menopang kepala.
Namun nantinya ia akan mampu mengembangkan keterampilan penting ini, karena mengontrol kepala merupakan landasan dasar dari semua gerakan seperti duduk dan berjalan.
Seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (6/10/2010) bayi mungkin akan mampu mengangkat kepala ketika berusia sekitar 1 bulan dan mampu menahan kepala saat duduk sekitar usia 4 bulan. Otot leher dan kontrol kepala akan semakin kuat dan mantap saat bayi berusia 6 bulan.
Berikut perkembangan bayi dalam mengontrol kepalanya:
Bayi baru lahir
Saat baru lahir, bayi akan sepenuhnya bergantung pada orang lain terutama ibunya untuk menopang kepala dan leher. Kondisi ini akan berlangsung setidaknya pada bulan pertama atau lebih. Hal ini bisa membantu meningkatkan intensitas kontak mata dan ikatan antara bayi dan orangtua, terutama saat dalam buaian.
Usia 1-2 bulan
Pada akhir bulan pertama, bayi sudah bisa mengangkat kepalanya sebentar serta memutar ke sisi kanan dan kiri ketika sedang berbaring. Sekitar usia 6-8 minggu, ia sudah cukup kuat untuk mengangkat kepala dan ketika digendong di bahu sudah bisa menahan kepalanya meskipun dengan gemetar dan tidak lama. Sehingga ibu atau pengasuh masih harus membantu menopangnya.
Usia 3-4 bulan
Bayi akan dapat mengangkat kepala hingga 45 derajat saat tengkurap dan bisa dilakukan berulang-ulang kali. Otot lehernya pun sudah berkembang dan mulai cukup kuat untuk menopang kepala, namun orangtua harus tetap memberikan perhatian karena bayi belum sepenuhnya bisa mengontrol kepala sendiri.
Usia 5-6 bulan
Saat usia 5 bulan bayi sudah menunjukkan otot lehernya yang semakin kuat. Dan saat berusia 6 bulan, bayi dapat menahan kepalanya dengan mantap dan tegak serta akan lentur ke depan saat orang lain membantunya menarik ke posisi duduk.
Setelah bayi bisa mengontrol kepalanya dengan baik dan kuat, maka ia akan melanjutkannya ke posisi duduk, berguling dan merangkak. Pengendalian terhadap posisi kepala juga diperlukan untuk menelan makanan padat dan duduk di kursi yang lebih tinggi.
Penelitian Tidak Etis, Tapi Hasilnya Berguna
Penelitian medis tidak etis, sudah ada sejak dulu. Contoh belum lama ini adalah kemarahan pemerintah Guatemala pada Amerika.
Namun, walaupun sangat tidak etis, apakah penelitian seperti itu memang bermanfaat? Dan jika bermanfaat, apakah hasil seperti itu tidak penuh noda?
Penisilin
Pemerintah Amerika resmi meminta maaf pada Guatemala, mengenai penelitian medis yang mereka lakukan pada tahun 1940-an. Ratusan warga Guatemala ketika itu dengan sengaja ditulari penyakit sifilis dan gonoré oleh dokter Amerika. Dalam rangka mengetes kemanjuran obat baru, penisilin, menghadapi penularan penyakit kelamin pada tahap dini. Presiden Guatemala, Álvaro Colom, menamakan kasus ini ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’.
Percobaan dilakukan pada narapidana dan pasien rumah sakit jiwa. Dalam beberapa kasus, tim peneliti sengaja memerintahkan pelacur penderita penyakit kelamin berhubungan seksual dengan narapidana.
Peneliti Amerika, Susan Reverby, menemukan kasus ini dalam arsip, ketika ia melakukan penelitian mengenai kasus percobaan serupa terhadap buruh kulit hitam Amerika, di perkebunan kapas. Januari lalu, peneliti ini menerbitkan hasil penelitian yang ia lakukan, di situs webnya:
(<http://www.wellesley.edu/WomenSt/fac_reverby.html>)
Nazi Jerman
Di mana-mana, di seluruh dunia berlangsung penelitian medis yang sebenarnya tidak etis. Yang paling parah, pada masa Nazi Jerman. Richard Zegers, sejarawan medis di Academisch Medisch Centrum Amsterdam menemukan banyak kisah sangat menyedihkan. Misalnya penelitian ilmuwan Nazi, Hans Konradt Reiter, yang ternyata gagal, menewaskan ratusan korban jiwa manusia.
Richard Zegers: “Hans Konradt Reiter melaksanakan serangkaian percobaan untuk menangani penyakit tifus, dan mencoba mengembangkan vaksin baru. Untuk tujuan ini ia dengan sengaja menularkan penyakit tifus pada ratusan penghuni kamp konsentrasi di Buchenwald, dan di Natzweiler-Struthof, kamp konsentrasi untuk warga Prancis. Dengan demikian mereka semua terkena penyakit tifus, dan ratusan orang meninggal dunia. Beberapa orang di antara mereka mendapat vaksinasi, yang ternyata sama sekali tidak bermanfa’at. Para penderita penyakit tifus tersebut, atau sebenarnya, para korban tersebut, semua meninggal dunia”.
Malaikat Maut
Percobaan dokter di kamp Auschwitz, Joseph Mengele, yang dikenal dengan julukan ‘Malaikat Maut’, benar-benar sadis, kata Richard Zegers. Dokter ini misalnya melakukan percobaan seberapa jauh tubuh manusia tahan menerima sengatan setrum listrik.
Ia langsung melakukan percobaan atas tubuh penghuni kamp. Satu demi satu penghuni kamp tersebut mendapat dosis setrum listrik, makin lama makin banyak. Hanya untuk mengetahui, kapan mereka jatuh pingsan, dan terutama untuk melihat pada saat mana mereka tidak bisa bangun lagi.
Pil KB
Juga banyak kasus baru, dari negara-negara lain. Penelitian penyakit kelamin di Guatemala merupakan contoh gamblang, bagaimana peneliti Amerika bisa bertindak kelewat batas. Demikian menurut guru besar etik medis, Toine Pieters, dari VU Medisch Centrum Amsterdam.
Ia menunjuk pada percobaan pil anti kehamilan. Pada tahun 1950-an, keamanan pil ini masih belum jelas. Terutama, dampak sampingannya. Dan di Amerika sendiri, sulit mendapatkan manusia yang bisa dijadikan kelinci percobaan.
Toine Pieters: “Percobaan dilakukan pada tahun 1956, pada wanita Puerto Riko. Kalangan miskin tentu gampang untuk dijadikan kelinci percobaan, ketimbang wanita Amerika yang jauh lebih kaya. Di Amerika sendiri sulit untuk melakukan hal seperti itu. Dan para peneliti memilih jalan paling mudah, mencari wanita Puerto Riko”.
Rezim Jorge Rafael Videla
Lebih parah lagi percobaan dokter mata pada masa rezim Jorge Rafael Videla di Argentina. Tahanan menjadi obyek percobaan obat tetes selaput mata. Puluhan tahanan menjadi buta. Tapi, karena banyak di antara korban ini hilang begitu saja, kisah lengkap percobaan ini tetap menjadi misteri.
Malah, juga terdapat beberapa kasus paling anyar. Evert van Leeuwen, etikus medis dari Radboud Universiteit Nijmegen merujuk pada percobaan obat anti malaria di Filipina, pada akhir tahun 1990-an.
Evert van Leeuwen: “Penduduk setempat diberi obat pencegah malaria. Dan lalu mereka, sebagaimana semua orang lainnya, dibiarkan menjadi sasaran gigitan nyamuk. Para peneliti tinggal menunggu, apakah obat tersebut mampu mencegah penyakit malaria. Percobaan ini berhasil, dan obat pencegah dijual pada para turis. Sementara penduduk Filipina sendiri, tidak mampu membelinya”.
Manfaat Percobaan
Baik Toine Pieters mau pun Evert van Leeuwen tidak menyangkal, bahwa percobaan yang mengerikan pun bisa saja bermanfaat. Secara ilmiah, bahkan kegunaan hasil penelitian Joseph Mengele pun jelas.
Memang berguna untuk mengetahui seberapa jauh tubuh manusia mampu menerima sengatan arus listrik. Misalnya, untuk membuat senjata setrum listrik yang tidak membahayakan jiwa. Dan, berbagai aturan keselamatan kerja di berbagai instalasi listrik pun, menggunakan hasil penelitian tersebut.
Percobaan di Filipina juga menunjukkan bahwa penelitian seperti itu bermanfaat. Juga percobaan pil KB pada wanita Puerto Riko. Dampak samping semua pil anti hamil yang beredar sekarang ini, sudah jauh berkurang. Hasil penelitian dokter mata di Argentina kini digunakan di seluruh dunia.
Mati Sia Sia
Walaupun demikian, kita semua harus berpikir mengenai penggunaan lebih lanjut hasil-hasil penelitian tersebut. Apakah kita harus menjauhinya? Atau, perlu melihat dengan sudut pandang lain?
Evert van Leeuwen: “Sejak tahun 1990-an, para etikus medis telah mendiskusikan hal ini. Beberapa orang berpendapat, kita boleh saja menggunakan hasil penelitian seperti itu, dengan syarat, memberi ganti imbalan pada keluarga para korban. Namun, ada juga orang yang selalu ingin konsisten. Bagi mereka jelas, jangan pernah menggunakan hasil penelitian seperti itu … Yah, kalau begitu, semua korban tewas sia-sia”.
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/penelitian-tidak-etis-tapi-hasilnya-berguna
Inilah cara memandang wanita terhadap pria
Psikolog Inggris telah menemukan bahwa cinta pada pandangan pertama bagi wanita tidak ada. Namun, kebanyakan wanita memiliki enam pandangan fokus ketika bertemu dengan pria. Enam titik pandangan fokus ini bertujuan untuk mengevaluasi daya tarik pria. Apakah cocok untuk dijadikan kekasih atau hanya cocok dijadikan teman.
Seperti dikutip dari laman GeniusBeauty, kebanyakan wanita menjadikan penampilan, aroma, ekspresi wajah dan gerakan pria yang bisa menarik perhatiannya. Untuk memperhatikan detail bagian-bagian itu, para penelitia menyatakan, wanita butuh waktu 45 detik dan enam titik fokus pandangannya pada pria . Kemana saja titik fokus pandangan wanita, ketika melihat seorang pria?
1. Yang pertama berlangsung selama sekitar 5 detik untuk fokus memperhatikan warna mata dan ekspresinya
2. Pandangan berikutnya berlangsung selama 10 detik untuk menilai pakaian dan ketertibannya
3. Pandangan ketiga, butuh 5 detik untuk mengevaluasi gaya rambut
4. Fokus pandangan keempat diarahkan ke tangan, untuk menentukan bagaimana jantan dan menariknya mereka, dan apakah ada cincin kawin dijari manisnya
5. Pandangan kelima difokuskan pada alas kaki
6. Pandangan keenam yang berlangsung sekitar 15 detik untuk memperhatikan gaya berjalan, ekspresi wajah dan gerak tubuh
Penelitian serupa juga telah dilakukan pada wanita di Amerika. Namun, kebanyakan wanita Amerika selalu memperhatikan bibir pria, ketika bertemu pada pandangan pertama. Dari penelitian yang dilakukan, para wanita di AS mengaku, bibir pria bisa menjadi indikator pasangan yang potensial untuk dijadikan kekasih. Tak hanya bibir, perhatian berikutnya justru fokus pada bokong.
http://ibuprita.suatuhari.com/inilah-cara-memandang-wanita-terhadap-pria/














