Maria Ozawa (MIYABI) Kepincut Main Dengan ARIEL PETERPORN
Miyabi vs Ariel- Bintang film panas asal Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi (23), ternyata mengikuti perkembangan heboh video porno di Indonesia yang pemerannya mirip mantan vokalis Peterpan, Ariel, dan dua presenter mirip Luna Maya dan Cut Tari.
Miyabi sempat berkomentar di akun Twitter-nya seusai melihat video yang berjudul Peterporn tersebut. Dalam akun Twitternya, Miyabi mengungkapkan bahwa akhirnya dia bisa memperoleh video-video adegan ranjang itu setelah dua hari melakukan pencarian.
Gadis molek berdarah Jepang-Perancis-Kanada ini mengaku penasaran dengan pemeran video tersebut. Meski tidak banyak berkomentar tentang orang-orang yang ada dalam video mesum itu, Miyabi kembali berkomentar di Twitter, yang antara lain ingin mengetahui siapa pemeran pria video porno yang kemudian mendapat julukan Peterporn itu.
“Guys, after 2 days search on the web, today I get the real video of peterporn. Many thanks for my follower in Indonesia who give the link… (Teman-teman, setelah dua hari mencari di situs, hari ini saya mendapatkan video asli Peterporn. Terima kasih banyak buat pengikut saya di Indonesia yang sudah memberikan jalur ini…),” demikian komentar Miyabi.
Di komentar berikutnya, Miyabi mengungkapkan keinginannya untuk bisa mengetahui sosok pria yang mirip Ariel “Peterpan” dan dua wanita presenter terkenal itu. Menurut gadis yang kini menato lengan kirinya dengan gambar bunga mawar dan sakura ini, pemeran video porno yang pria tampan dan pemeran wanitanya (lawan main si pria di ranjang) cantik-cantik.
Hiroko, manajer Miyabi, saat dihubungi melalui surat elektronik mengungkapkan bahwa kabar soal video porno berjudul Peterporn itu diterima Miyabi tanpa sengaja di akun Twitter-nya. Selanjutnya, dari ketidaksengajaan itu Miyabi mulai mencari-cari di dunia maya dan akhirnya mendapatkan jalur yang dikirim oleh pengikutnya yang mengaku sebagai orang Indonesia.
Sementara itu, Keike Kasumi, mahasiswi seni Jepang yang pernah menemani Warta Kota tatkala berkunjung ke Tokyo, saat dihubungi melalui surat elektronik pada Minggu (13/6/2010) pagi mengungkapkan, kabar tentang video porno berjudul Peterporn tersebut sudah ramai di kalangan remaja Jepang, khususnya di Tokyo, karena akses untuk mengunduh dari internet sangat mudah.
Bahkan, kata Keike, dengan telepon seluler yang terkoneksi ke internet pun video porno tersebut bisa diunduh. Namun, gadis kelahiran Nakano, Jepang, ini tidak mengetahui berapa banyak remaja di negeri itu yang sudah mengunduhnya. Hanya saja, sepanjang tiga hari ini video tersebut jadi bahan pembicaraan dan dicari-cari. Keike pun mengaku sudah mengunduh salah satu video Peterporn tersebut.
“Salah satu yang sudah saya unduh adalah video yang kualitas gambarnya lebih bagus. Kalau tidak salah dengan gambar yang miring. Di video itu pemeran wanitanya berwajah cantik. Berwajah Asia, tetapi kulitnya sangat bagus. Sedangkan yang laki-laki terlihat tampan dengan kulit agak gelap,” ujar Keike yang mengaku sudah menghapus file unduhannya itu dari memori telepon selulernya
kompas.com
Ciri – ciri ABG Yang Doyan Dugem
Kalau seorang remaja menghabiskan Rp 150.000 seminggu untuk dugem, bisa dibayangkan berapa penghasilan orang tuanya. “Rasanya tidak mungkin bila cuma tiga atau empat juta rupiah sebulan,” ujar seorang peserta seminar yang datang ke peluncuran Pulsa Remaja III, yang merupakan penelitian gaya hidup remaja di kota besar Indonesia oleh Surindo belum lama ini. Orang-orang segenerasi saya tentu saja gelagapan begitu ditanya apa artinya dugem. Itu adalah murni istilah remaja zaman sekarang.
Sebagai dosen, saya tentu merasakan arus perubahan sikap remaja dari masa ke masa. Yang jelas, makin hari usia mahasiswa saya makin muda. Dan bagi kaum muda ini, sering saya menemukan jawaban yang aneh-aneh kalau mereka tak bisa menjawab pertanyaan kala ujian.
Di antaranya adalah: “Au ah, gelaaap!”Mahasiswa saya yang agak tua tentu tak seberani itu. Kalau tak bisa menjawab umumnya mereka cuma bertanya apa boleh buka buku. Kalau tak boleh juga, jawabannya ya mereka kosongkan begitu saja. Apakah yang muda cenderung menjadi kurang sopan? Saya kurang tahu persis. Tapi yang jelas, setiap zaman punya anaknya sendiri yang punya bahasa gaul yang tidak sama dengan generasi di atasnya. Maka, wajar bila banyak pemasar yang gagal dalam membidik remaja. Rata-rata mereka berpikir remaja itu sama dari masa ke masa. Potret remaja yang dimilikinya adalah remaja kala ia masih remaja. Padahal remaja adalah the moving target, yang bergeser dari waktu ke waktu.
Betapa sulitnya membidik remaja dapat dilihat dari jatuh bangunnya pengelola media menangani remaja. Ada yang cuma bertahan tiga bulan, setahun, tiga tahun, atau paling lama sepuluh tahun. Tahun 1970-an ada empat media remaja besar yang cukup disegani, yaitu Semangat (penerbit Kanisius), Sahabat Pena (Perum Pos), Aktuil, dan Midi (Gramedia). Semuanya gugur dalam waktu yang singkat sekali. Lalu ada lagi Ria Film, Team, Ria Remaja, Junior, Adam & Eva, Top, Berita Remaja, Pos Muda-Mudi, Sonata, Halo, Intan, Sikandi, Indonesiaku, Nona, Mitra, Karina. Bahkan Mode yang dikerjakan oleh mantan orang-orang Gadis ternyata cuma sukses sebentar lalu hilang begitu saja. Praktis, yang sampai hari ini masih dapat hidup cuma empat media, yaitu Gadis, Hai, Aneka Yess dan Kawanku. Mereka pun bukan tanpa kesulitan dalam mempelajari apa maunya remaja dari waktu ke waktu. Suatu ketika mereka suka sepeda mini, naik gunung, motor cross, lalu basket, sepak bola, lalu beralih ke Formula One. Pokoknya mereka berubah terus.
Membidik dengan bijak mereka yang memberontak
Maka untuk menangani remaja dibutuhkan suatu kearifan, membidik dengan bijak, bukan memanipulasinya untuk kepentingan sesaat. Remaja pada dasarnya adalah spesies yang sedang mengalami pergeseran dari masa kanak-kanak menjadi orang dewasa. Pada masa perubahan itu mereka akan mengalami konflik, pemberontakan, rasa tidak nyaman, tidak pasti, dan mencari petunjuk terhadap apa yang harus dilakukannya; bergeser dari orang tua ke teman, media massa (khususnya radio dan majalah), dan tentu saja melalui iklan. Ketika melihat teman-temannya memiliki otonomi, mereka masih harus kembali meminta restu dari orang tuanya. Rasa tak nyaman ini hendaknya tak diperkeruh.
Kalau diperhatikan, ada dua instrumen yang biasa digunakan untuk mendeteksi alur perubahan remaja dari waktu ke waktu, yaitu melakukan hubungan sedekat mungkin dan melakukan riset yang dapat dipertanggungjawabkan. Surindo tampaknya berhasil mendeteksi delapan segmen psikografis remaja di perkotaan, yang masing-masing mereka beri nama
1. Remaja funky (15%),
2. Remaja Be-Te (11,7%),
3. Remaja Asal (8,6%),
4. Remaja Plin-Plan (22,7%),
5. Remaja Boring (16,8%),
6. Remaja Ngirit (14,8%), dan
7. Remaja Cool (10,3%).
Sebagian segmen ini kelihatan memberi harapan. Mereka sangat berhati-hati dalam berbelanja, tak mudah tertipu, mencari informasi sebelum membeli, terencana kritis, punya rasa percaya diri, dan punya perhatian terhadap masalah-masalah sosial. Tapi, sebagian lagi terlihat cemas, ragu-ragu, tak konsisten, tak punya rencana masa depan, bahkan tak percaya orang lain sehingga tak membuka diri atau berorganisasi. Wajar kalau dalam berbelanja mereka sering tertipu (Remaja Be-Te). Bahkan ada yang percaya dirinya rendah, tapi gengsinya tinggi sekali (Remaja Asal).
Sampai di sini mungkin Anda sudah menemukan apa artinya dugem. Betul, dunia gemerlap. Ini adalah kebiasaan anak-anak gaul di perkotaan yang high maintenance, barangkali.
Mengenal Sejarah Sepak Bola
Banyak orang menyangka sepak bola lahir di Inggris. Ternyata sepak bola yang dimaksud itu sepak bola modern, namun sebelum itu termyata sepak bola telah ditemukan sejak 3000 tahun yang lalu di berbagai pelosok dunia dalam bentuk yang berbeda-beda.
Bola pernah ditemukan bukti-buktinya sebagai permainan para prajurit China sekitar abad ke 2 – 3 zaman pemerintahan Dinasty Han. Belakangan ditemukan juga bukti keberadaan sepak bola di Kyoto, Jepang. Di Indonesia, sepak bola pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda, perkembangannya pun menjadikan sepak bola menjadi sebuah kelompok bergengsi pada saat itu.
Kelahiran sepak bola modern memang lahir dari Inggris. Keberadaannya pun digunakan sebagai olah raga “perang”. Saat itu ada semacam kepentingan pelampiasan antara Inggris dan Scotland. Satu bola diperebutkan dua kampung. Permainannya pun cenderung kasar dan brutal. Gak heran kalau akhirnya banyak makan korban. Ada kisah yang menyeramkan pula. Bahwa sepak bola kuno di timur Inggris bukan menggunakan bola, melainkan kepala musuh prajurit perang lawan. Dengan cara dan pola permainan seperti itu, maka sepak bola akhirnya dilarang oleh pemerintahan Inggris.
King Edward III tahun 1331 mengeluarkan aturan untuk menghentikan permainan brutal ini. Sementara di Scotland, King James 1 pada tahun 1424 memproklamirkan kepada semua pria untuk tidak main bola – “That na man play at the Fute-ball”. Begitu pun seterusnya.
Sayangnya, sepak bola sudah sangat populer hingga tidak ada yang bisa menghentikan permainan ini di masyarakat. Pada tahun 1815 sebuah kampus ternama di Inggris, Eton College mencoba membuat aturan permainan sepak bola. Aturan ini berkembang dan diterapkan di banyak perguruan tinggi, dimodifikasi hingga dikenal dengan nama Cambridge Rules tahun 1848. Namun pada perkembangannya pun aturan ini terpilah menjadi dua aturan besar, yaitu aturan Rugby School dan aturan Cambridge. Yang membedakannya saat itu adalah bola yang boleh dipegang dan dibawa berlari.
Pada tanggal 26 October 1863, sebelas klub dan sekolah London mengirimkan perwakilannya untuk sebuah pertemuan di Freemanson’s Tavern untuk mengkukuhkan satu peraturan mendasar untuk aturan permainan yang akan mereka mainkan. Dari pertemuan ini lah lahir The Football Association. Kekuatan kelompok ini makin solid hingga membuat gerah penggemar Rugby. Pada tanggal 8 Desember 1863 para rugger (sebutan untuk rugby) memutuskan untuk berpisah. Kini ada Rugby School dan The Football Association.
Pada tahun 1869, para anggota The Football Association (sering disebut Asscociation) mulai mengkukuhkan larangan memegang bola saat bermain. Ini adalah awal aturan hands-ball.
Charles Wreford Brown adalah pemainrugger handal, rugger adalah sebutan rugby muncul dari istilah slang mahasiswa di Oxford yang gemar memendekkan sebutan lalu diberi imbuhan di akhir “er” – rug + er = rugger. Suatu ketika Charles ditawarkan apakan dirinya ingin bermain rugger? Namun dirinya menolak dengan menyebukan bahwa dirinya lebih suka SOCCER (slang dari kata AsSOCiation). Sejak itulah sebutan soccer mulai sering dipakai.
Tahun 1888, William McGregor – pengurus klub Aston Villa mendekati 12 klub soccer yang ada untuk melakukan tanding rutin yang kemudian diberi nama English Football League. Kedua belas klub itu adalah :
– Accrington (Old Reds)
– Aston Villa
– Blackburn Rovers
– Bolton Wanderers
– Burnley
– Derby County
– Everton
– Notts County
– Preston North End
– Stoke City
– West Bromwich Albion
– Wolverhampton Wanderers
Kick-off pertama kalinya liga ini dimulai tanggal 8 September 1888
Sejak itu, saya baru menyadari bahwa FOOTBALL adalah sebutan resmi, sementara SOCCER digunakan sebagai sebutan in-formal.
[lintas berita]














