Mitos Karier yang Harus Anda Ketahui
BANYAK alasan mengapa seseorang memilih karier tertentu dalam hidupnya. Banyak yang beralasan karena besarnya pendapatan yang ditawarkan, masa depan karier yang cemerlang, sampai karier yang bisa memberikan kekuasaan yang besar.
Di antara alasan-alasan tersebut, terdapat mitos yang juga beredar di kalangan masyarakat. Mitos-mitos inilah yang bisa menyesatkan orang saat akan menentukan kariernya.
Mitos seperti apakah itu? Berikut seperti yang dituturkan oleh konsultan karier Dawn Rosenberg McKay.
Memilih karier itu mudah
Sebenarnya, proses memilih karier membutuhkan waktu yang lama dan serius. Sebelum memutuskannya, seseorang harus mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu, mengetahui minat, dan kesempatan yang ada.
Konsultan karier tahu yang terbaik
Bahkan seorang konsultan karier tak bisa mengetahui dengan pasti pekerjaan atau karier apa yang cocok untuk seseorang. Mereka hanya bisa memberi panduan atau memberikan bimbingan agar seseorang lebih mantap dalam memilih karier.
Hobi tak bisa jadi andalan hidup
Sudah banyak buktinya, kalau hobi bisa dijadikan mata pencaharian. Bahkan dengan menjadikan hobi sebagai sebuah pekerjaan, semangat dan gairah bekerja akan mewujud dalam karya yang cemerlang.
Karier terbaik = karier yang populer
Sering kali, para ahli atau konsultan karier memberikan ”bocoran” soal karier-karier yang prospeknya akan cemerlang di beberapa tahun ke depan. Ingatlah, jangan pernah hal ini dijadikan bahan pertimbangan terbesar saat memutuskan karier. Lagipula, prediksi ini terkadang tak selalu tepat karena kondisi memang selalu berubah. Akan lebih baik jika memilih karier berdasarkan ketertarikan dan kemampuan yang dimiliki. Yang penting untuk diingat ialah, pekerjaan yang prospeknya bagus belum tentu cocok untuk orang tersebut.
Banyak uang berarti bahagia
Gaji memang penting, tapi jangan dijadikan satu-satunya alasan dalam memilih karier. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa uang tidak otomatis membuat seseorang puas dan bahagia dengan kariernya. Buat banyak orang, kesenangan saat mengerjakan pekerjaan tersebut justru menjadi hal yang paling penting. Meski begitu, faktor uang atau gaji juga patut dipertimbangkan saat memilih karier.
Terjebak dalam satu karier Jika ada orang yang menganggap bahwa sekali ia memilih satu pekerjaan maka ia akan ”terjebak” selamanya di pekerjaan tersebut, itu tidak benar. Siapapun orangnya, ia selalu bisa mengubah pekerjaan atau kariernya. Banyak orang berganti-ganti pekerjaan dalam hidupnya, demi mencari pekerjaan yang cocok. Asal ada niat kemampuan, keinginan mengubah pekerjaan atau karier bukanlah hal yang mustahil.
Mengubah karier sama dengan membuang keahlian
Keahlian yang sudah dimiliki tak akan pernah tersia-sia. Keahlian tersebut mungkin saja tidak bisa dipakai seperti saat di pekerjaan sebelumnya, tapi keahlian itu tidak akan sia-sia dan tetap dapat digunakan kapan saja, dalam pekerjaan apa saja.
Jika cocok untuk mereka berarti cocok untuk saya
Setiap orang pasti berbeda, bahkan jika mereka punya banyak kesamaan. Karena itulah jangan pernah berpikir bahwa karier yang dimiliki oleh orang yang karakternya sama dengan Anda, maka pekerjaan tersebut juga cocok untuk Anda. Jika Anda tertarik dengan karier sahabat atau saudara Anda, coba cek dan pelajari dulu, apakah karier tersebut benar-benar pas untuk Anda.
Pilih pekerjaan dulu, setelah itu lihat saja nanti
Mendapatkan pekerjaan memang satu langkah yang baik, namun hal ini barulah permulaan. Jika seseorang menginginkan karier yang baik, maka ia harus membuat rencana-rencana tertentu tentang posisi atau jabatan yang harus diraih dalam beberapa waktu ke depan. Jika ia asal menerima sebuah pekerjaan, sangat sulit untuk membuat rencana-rencana tersebut karena kemungkinan besar iapun tak terlalu paham dan tak memiliki gairah terhadap karier atau pekerjaan tersebut.
Cara paling tepat mengetahui sebuah pekerjaan ialah dengan bekerja di bidang tersebut
Pengalaman langsung memang yang terbaik, namun ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk mempelajari dan memahami sebuah pekerjaan tanpa harus mengalaminya sendiri. Berbagai cara, mulai dari membaca berita di surat kabar,browsing di internet, sampai bertanya pada orang-orang yang bekerja di bidang tersebut, bisa dipraktekkan untuk mempelajari sebuah pekerjaan.
Hal Tabu dalam Meningkatkan Karier
Banyak dari para karyawan atau pebisnis yang sibuk mencari cara untuk meningkatkan nilai jualnya dalam dunia kerja. Sibuk mengemukakan ide-ide cemerlang di dalam rapat, menjaga komunikasi yang baik dengan bos dan atasan bos, menulis buku atau artikel, menjadi pembicara di seminar penting, menjadi anggota berbagai organisasi, membangun komunikasi yang baik dengan semua komponen, menggunakan sosial media dengan bijak, sampai menjadi sukarelawan berbagai acara, adalah daftar panjang yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan nilai jual.
Namun, di samping sibuk melakukan daftar tersebut satu per satu, ada baiknya Anda juga memperhatikan hal-hal yang tabu untuk Anda lakukan. Sudah tentu segala daftar tak ada gunanya jika Anda juga menghindari segala tabu itu.
Seperti apakah tabu yang harus dihindari, berikut tuturan dari konsultan dan pembicara andal Rebecca Houston.
Hapus rasa keakuan
Karyawan yang egois, yang hanya memikirkan promosi atau kenaikan pangkat untuk diri sendiri, jelas bukan sikap yang baik dalam karier. Jika terus-menerus membanggakan diri sendiri, cepat atau lambat, Anda akan terjebak dalam permainan Anda sendiri.
Lebih baik berpikirlah dengan kerangka ”kita”. Saat akan mengajukan sebuah ide, apakah ide tersebut akan menguntungkan banyak orang? Apakah ide tersebut akan membuat perusahaan memperoleh keuntungan?
“Artinya, Anda butuh sesuatu yang lebih besar untuk meningkatkan nilai jual Anda. Tidak hanya harus mengangkat sesuatu yang lebih besar dari Anda. Itulah yang akan membuat Anda memiliki nilai jual tinggi dan tingkat profesionalitas yang terjamin,” ujar Hourston.
Senada dengan Hourston, penulis Richard Laermer juga menyatakan bahwa para eksekutif yang cerdas dan para pengusaha kini tak lagi mempromosikan diri mereka sendiri. Hukum permintaan tak lagi berkaitan dengan nama beken seseorang melainkan pada ingatan atau building awareness masyarakat pada bisnis seseorang.
“Buildingawareness pada bisnis Anda adalah cara terbaru untuk mendapatkan keuntungan besar,” tegas Laermer.
Dr Samantha Collins, CEO Aspire Coaching & Training, menemukan cara menaikkan integritas perusahaan dan dirinya sendiri. Kuncinya, lakukanlah promosi dengan tujuan yang jelas. “Saat akan melakukan aksi, saya akan berpikir, untuk apa? Apa yang harus saya lakukan agar hasilnya nanti berdampak besar bagi perusahaan saya,” ujar Collins.
Jadi, bidang pekerjaan apa pun yang Anda jalani, pastikan bahwa tujuan yang akan Anda capai lebih dari sekadar keinginan menonjolkan diri sendiri.
Hilangkan kesopanan yang otomatis
Saat seorang atasan memuji hasil kerja di kantor kepada seorang karyawan, kebanyakan karyawan akan mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja bersama. Ini sebenarnya adalah sesuatu yang tidak baik, kalau tidak mau disebut buruk.
Kalau langkah kedua ini seperti bertolak belakang dengan langkah pertama, sebenarnya tidak begitu. Memang langkah pertama menyarankan Anda untuk tak hanya menonjolkan diri Anda, tapi merendahkan diri sendiri juga bukan langkah yang tepat. Yang paling baik ialah, akui kalau itu hasil kerja Anda atau pastikan bahwa Anda punya kontribusi dalam kerja tersebut dan atasan Anda patut mengetahuinya.
Yang harus Anda lakukan ialah, banyak-banyaklah menyebut dan memuji hasil kerja rekan Anda tapi seimbangkan juga dengan memberi kredit atau pujian pada hasil kerja Anda sendiri. Jangan harapkan orang lain akan bisa jadi rekan kerja atau atasan tidak menyadarinya.
Karena itulah, tentukan “bagian” Anda, di posisi manakah Anda ingin dikenal dan diketahui kontribusinya. Yang paling penting, Anda harus berkontribusi terlebih dahulu sebelum mengakui dan mengatakan kesuksesan Anda.
Jangan bermain aman
Banyak karyawan yang senang bermain aman, jadi pastikan Anda tidak melakukannya. Banyak orang sangat ingin membuat hubungan yang baik, menjadi orang yang disukai dan menyenangkan semua orang, yang mengakibatkan orang tersebut akan selalu bermain aman. Jika Anda terus-menerus bersembunyi di balik atasan Anda, tak berani mengambil risiko atau mengambil tanggung jawab sebuah proyek besar, maka Anda tak akan menjadi “besar” di perusahaan tersebut dan tak akan membuat perusahaan Anda “besar” juga.
Yang Anda butuhkan ialah, kemampuan menebak respons atau pasar, dan menentukan langkah Anda untuk berkontribusi pada hasil besar yang akan dicapai perusahaan.
Saat Anda menempuh langkah-langkah tersebut dan berusaha menciptakan nilai jual Anda, mungkin saja akan banyak rekan kerja atau orang lain yang tidak menyukai Anda. Tapi satu hal yang harus Anda ingat, Anda tak bisa menyenangkan semua orang dan mengontrol pikiran mereka atau penilaian mereka terhadap Anda. Yang bisa Anda lakukan hanyalah mengontrol cara kerja dan kinerja Anda.
Jika banyak kendala yang Anda temui, ingatlah segala perkataan positif dari orang-orang yang pernah memuji hasil kerja Anda. Inilah bahan bakar Anda untuk tetap maju dan meningkatkan kredibilitas serta nilai jual Anda.
Apakah Pekerjaan Membuat Anda Tetap Melajang?
Alasan klasik banyak perempuan tetap memilih melajang adalah karena kesibukan pekerjaan.
INI adalah masalah klasik. Perempuan yang punya karier bagus umumnya selalu punya satu “kekurangan”, yaitu sulit memiliki pasangan. Problem yang sering kali terlihat biasa.
Bukannya mereka kurang cantik atau tak berkepribadian menarik, tapi karena kesibukan dan tuntutan pekerjaan yang tinggi sering kali membuat mereka sulit untuk membangun hubungan yang serius dengan lawan jenis.
Contoh saja di Amerika Serikat. Pemerintah negara ini mencatat sekitar 44 persen pekerjanya berstatus lajang, dan kemungkinan besar penyebabnya ialah karena pekerjaan. Waktu untuk diri sendiri yang semakin minim, juga waktu untuk bersosialisasi yang terbatas, menjadi penyebabnya.
Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan karier dan hubungan lawan jenis menjadi berbanding terbalik? Berikut beberapa alasan yang mengemuka, seperti dilansir darilivecareer.com.
Saya tak punya waktu untuk berkencan
Banyak perempuan lajang yang mengatakan bahwa pekerjaan mereka tak memungkinkan untuk bisa menemukan pria yang tepat. Padahal mungkin saja mereka memang menempatkan karier di peringkat nomor satu. Atau memang lebih mudah untuk mendapatkan dan mengejar karier impian daripada menemukan si Mr Right.Apapun alasannya, mengorbankan banyak waktu untuk bekerja tentu saja bisa membuat kehidupan cinta Anda tak mengalami perubahan positif.
Solusinya, buatlah kehidupan cinta Anda seperti Anda mengejar karier. Perbaiki kehidupan sosial Anda. Rajin-rajinlah datang ke acara pertemuan bersama teman, utamanya yang membuat Anda banyak bertemu orang baru. Intinya, buatlah komitmen kehidupan sosial seperti Anda berkomitmen pada pekerjaan. Buatlah target, misalnya Anda harus menyediakan berapa jam dalam seminggu untuk keluar dan berkencan.
Bos tahu saya lajang dan ia memberi pekerjaan yang membuat saya terus melajang
Pekerja berstatus lajang umumnya diharapkan bisa bekerja melebihi jam kerja, sering diminta melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, juga diberi tugas mendadak. Alasannya, karena mereka dianggap tak memiliki komitmen pada keluarga, maka atasan bisa ”seenaknya” memberi mereka pekerjaan tambahan. Itu pula yang menjelaskan mengapa pekerja lajang kariernya cenderung cepat meningkat.
Solusinya, hargai komitmen percintaan Anda. Jika atasan meminta Anda untuk bekerja lembur, Anda tak harus mengiyakan permintaannya. Katakan bahwa Anda punya rencana yang tidak bisa ditunda. Mereka tentunya harus mengerti bahwa Anda punya kehidupan lain diluar pekerjaan. Yang perlu diingat, jangan biarkan target Anda di karier membuat Anda melupakan target Anda di bidang yang lain.
Pria yang saya sukai sudah menikah atau sudah punya pacar
Alasan ini mungkin tak berhubungan langsung dengan pekerjaan, namun statistik menunjukkan bahwa hampir separuh pekerja menikah dengan orang yang dikenalnya di dunia kerja. Itu artinya, jika rekan-rekan sekantornya hampir semuanya sudah menikah, semakin kecil kemungkinannya untuk menemukan pasangan hidup di lingkungan kerja.
Solusinya, ciptakan lingkungan tempat Anda bisa menemukan pasangan. Anda bisa ikut organisasi atau komunitas hobi, atau rajin-rajinlah mencari kawan lama di situs pertemanan. Restoran atau cafe favorit juga bisa Anda jadikan tempat untuk menemukan pasangan. Cara lainnya, coba ikut kursus atau sekolah lagi. Di lingkungan pendidikan seperti ini besar kemungkinan Anda akan menemukan para pria lajang.
Tidak ada yang mau berkencan dengan saya
Setiap pekerjaan selalu memiliki resiko atau stereotipe tertentu. Seorang pria mungkin saja enggan berkencan dengan pengacara perempuan karena berpikir bahwa kencan mereka nantinya hanya akan diisi oleh perang argumen. Atau ada juga yang menghindari kencan dengan seorang terapis karena tak mau kehidupan dan sifatnya dibaca oleh teman kencannya sendiri.
Yang bisa Anda lakukan untuk menangani hal ini ialah, jadilah diri Anda sendiri, bukan jadi pekerjaan Anda. Hindari topik yang mengarah pada pekerjaan pada kencan-kencan awal. Membicarakan hal tersebut bisa dilakukan jika masing-masing sudah saling mengenal lebih dalam dan mengerti posisi masing-masing.
Jadi jangan takut untuk membuka diri. Tebarkan pesona Anda dan raihlah sang belahan jiwa.















